Jakarta-Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS secara signifikan pada Senin (7/4), mencapai titik terendah dalam sejarah.
Kurs rupiah di non-deliverable forward (NDF) telah menyentuh Rp17.261 per dolar.
Posisi ini menunjukkan pelemahan drastis dari nilai tukar terakhir sebelum libur Lebaran pada Kamis (27/3), yaitu Rp16.555 per dolar.
Kebijakan ini menargetkan sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif timbal balik hingga 32%.
Hal ini diperkuat oleh komentar Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick yang menyatakan tidak akan ada penundaan penerapan tarif, sehingga ketegangan perdagangan semakin meningkat.
Bank Indonesia (BI) menyatakan terus memantau dinamika pasar global dan domestik sejak pengumuman kenaikan tarif impor AS dan retaliasi oleh China.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan bahwa pasar saham global dan yield US Treasury juga mengalami tekanan.
BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui kebijakan triple intervention, yaitu intervensi di pasar valuta asing spot, DNDF, serta di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN).
Tujuannya adalah memastikan likuiditas valuta asing tetap terjaga serta menjaga kepercayaan pelaku pasar. (Haholongan)







