Jakarta, jurnalisinvestigasinews.com — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan mencetak pencapaian penting dalam dunia layanan kesehatan dengan keberhasilannya melakukan rekonstruksi Posterior Cruciate Ligament (PCL) menggunakan metode artificial graft. Tindakan ini menjadi yang pertama kali dilakukan di lingkungan RSUD di seluruh Indonesia.
Direktur Utama RSUD Tarakan, dr. Weningtyas Purnomorini, MARS, menyatakan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan berkualitas tinggi yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
“Ini bukan hanya keberhasilan prosedur medis, tetapi juga langkah maju dalam pemerataan layanan ortopedi modern di rumah sakit pemerintah. Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan layanan terbaik tanpa harus ke luar negeri atau ke fasilitas dengan biaya tinggi,” ujarnya.
PCL merupakan salah satu ligamen penting pada lutut yang berfungsi menjaga stabilitas sendi, khususnya dalam menahan pergeseran tulang ke arah belakang. Cedera pada ligamen ini sering terjadi akibat aktivitas olahraga berat maupun kecelakaan, dan jika tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan gangguan fungsi lutut hingga kerusakan sendi jangka panjang.
Metode artificial graft yang digunakan dalam tindakan ini memungkinkan penggantian ligamen yang rusak dengan bahan sintetis berkualitas tinggi. Teknik ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan, antara lain tidak memerlukan pengambilan jaringan dari tubuh pasien, sehingga mengurangi trauma tambahan serta mempercepat proses pemulihan.
Tim dokter ortopedi RSUD Tarakan dr. Jafri Hasan, Sp.OT.Subsp.CO (K) menjelaskan bahwa pasien yang menjalani tindakan ini sebelumnya mengalami nyeri lutut kronis dan ketidakstabilan sendi yang signifikan. Setelah melalui pemeriksaan komprehensif, termasuk pencitraan MRI dan evaluasi klinis, pasien dinyatakan memenuhi indikasi untuk dilakukan rekonstruksi PCL.
“Dengan teknik ini, kami dapat mengembalikan stabilitas lutut secara optimal. Hasil awal menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, baik dari sisi fungsi maupun pengurangan nyeri,” ujar dr. Jafri Hasan.
Pascaoperasi, pasien menjalani program rehabilitasi terpadu yang mencakup fisioterapi intensif dan pemantauan berkala. Pendekatan ini bertujuan untuk memastikan pemulihan berjalan maksimal serta mencegah komplikasi.
Ke depan, RSUD Tarakan berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan ortopedi sebagai salah satu unggulan, sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan kolaborasi dengan berbagai institusi medis.
Langkah ini menegaskan bahwa rumah sakit pemerintah tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi medis, tetapi juga menjadi pelopor dalam menghadirkan inovasi layanan kesehatan bagi masyarakat.







