Jakarta jurnalisinvestigasinews.com – Ketua Umum Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Agung Nugroho, menyatakan dukungan penuh terhadap target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mencapai cakupan layanan air bersih sebesar 90 persen pada tahun ini. Menurutnya, peningkatan layanan air bersih bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga urusan kesehatan masyarakat dan pemenuhan hak dasar warga.
“Air bersih yang aman dan tersedia bagi seluruh warga adalah fondasi kesehatan publik. Tanpa itu, kita tidak bisa mencegah penyakit berbasis lingkungan secara efektif,” ujar Agung, (…).
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa akses terhadap air minum yang aman, sanitasi, dan kebersihan (WASH) sangat berkaitan dengan kesehatan masyarakat. WHO mencatat bahwa kondisi WASH yang tidak memadai masih menjadi penyebab utama penyakit seperti diare, yang secara global turut berkontribusi pada jutaan kematian yang bisa dicegah, terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kekurangan layanan WASH juga terkait dengan beban penyakit tropis yang dapat dicegah melalui peningkatan kualitas air, sanitasi, dan praktik kebersihan yang layak .
Lebih lanjut, laporan bersama WHO dan UNICEF mengungkap bahwa sekitar 2,1 miliar orang di dunia masih kesulitan mengakses air minum yang aman dan jutaan lainnya kekurangan layanan sanitasi dasar di rumah tangga mereka . Tren global ini menempatkan upaya pemerintah daerah untuk memperluas jaringan air bersih sebagai bagian dari komitmen lokal untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) nomor 6 tentang air bersih dan sanitasi untuk semua.
Agung menekankan bahwa Jakarta, sebagai kota besar dengan kepadatan tinggi dan ketimpangan sosial-ekonomi yang nyata, membutuhkan pendekatan pemerataan akses air yang adil dan inklusif. “Target 90 persen harus dipastikan benar-benar menjangkau seluruh wilayah, termasuk kampung kota dan kawasan permukiman padat,” katanya.
Menurut Agung, perluasan layanan air bersih yang efektif dapat membantu menurunkan angka kasus penyakit yang dapat dicegah melalui akses air yang layak. Ia menilai bahwa perbaikan layanan ini juga berdampak langsung pada biaya kesehatan rumah tangga dan sistem kesehatan publik secara keseluruhan.
“Ketika air bersih tersedia dan terjangkau, maka beban fasilitas kesehatan dari penyakit terkait air bisa berkurang,” tambahnya. “Itu berarti kesehatan warga diproteksi, dan akses air menjadi bagian dari kewajiban negara terhadap hak dasar warganya.”
Selain aspek kesehatan, Agung juga mengingatkan bahwa akses air yang layak merupakan isu keadilan sosial. Selama ini, warga berpenghasilan rendah sering kali masih bergantung pada sumber air yang tidak aman atau harus membeli air kemasan dengan biaya mahal. Dalam konteks ini, peningkatan cakupan layanan bukan hanya soal kuantitas, tetapi pemerataan akses yang menghapuskan ketimpangan layanan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan cakupan layanan air bersih sebesar 90 persen tahun ini sebagai bagian dari peta jalan menuju 100 persen pada 2029. Agung berharap program itu berjalan cepat, disertai jaminan kualitas air, tarif yang terjangkau, serta pengawasan layanan secara berkelanjutan.
“Lebih dari sekadar angka, target ini adalah gambaran nyata bahwa negara hadir untuk melindungi kesehatan dan martabat warga Jakarta,” tutup Agung.
Penulis : Syahrudin akbar







