Oleh: Deni Martanti*
Pengurus Pusat Pemuda Cinta Tanah Air
Setiap tanggal 1 Juni, kalender bangsa Indonesia menandai sebuah momen historis yang fundamental: Hari Lahir Pancasila. Sejak resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo, momentum ini menjadi pengingat tahunan akan fondasi ideologis negara kita. Namun, di usia ke-81 tahunnya, Pancasila menuntut lebih dari sekadar seremonialisme. Ia menuntut relevansi.
Sudah delapan dekade lebih Pancasila menjadi pemersatu bangsa. Pertanyaannya, apakah kita masih perlu terus-menerus berkutat pada sosialisasi dasar dan hafalan kelima sila? Jawabannya mungkin tidak lagi. Fokus kita harus bergeser dari knowing (mengetahui) menuju doing (melakukan). Pancasila sebagai way of life atau pandangan hidup, seharusnya tidak lagi diposisikan sebagai materi hafalan di sekolah atau spanduk di jalanan, melainkan sebagai kompas moral dalam setiap tindakan nyata warga negara.
Gerakan menghidupkan Pancasila harus dimulai dari ruang kelas, namun dengan pendekatan yang berbeda. Para pendidik memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mengajarkan definisi, tetapi juga menanamkan nilai. Pembelajaran Pancasila akan terasa hampa jika berhenti pada tataran kognitif. Generasi muda perlu diajak mengalami langsung nilai-nilai tersebut melalui praktik.
Kegiatan sosial yang melibatkan kerja sama, toleransi, dan saling menghargai antar-sebaya adalah laboratorium terbaik bagi siswa untuk memahami makna “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” atau “Persatuan Indonesia”. Ketika seorang siswa belajar menyelesaikan konflik tanpa kekerasan atau membantu teman yang berbeda latar belakang, ia sedang mengamalkan Pancasila. Di sinilah pendidikan karakter bertemu dengan ideologi negara.
Di ranah pemerintahan, ujian terhadap kesetiaan pada Pancasila jauh lebih berat dan konsekuensial. Bagi para pemimpin dan pejabat publik, Pancasila bukan sekadar slogan kampanye, melainkan etika jabatan. Setiap kebijakan yang diambil haruslah merupakan kristalisasi dari nilai-nilai keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.
Transparansi, akuntabilitas, dan integritas adalah manifestasi modern dari sila-sila Pancasila. Ketika seorang pejabat menolak korupsi, ia sedang menjaga kemurnian ideologi negara. Ketika pemerintah membuat kebijakan yang inklusif dan berpihak pada kaum marginal, ia sedang mewujudkan keadilan sosial. Sebaliknya, setiap tindak ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang adalah bentuk pengkhianatan terhadap roh kelahiran Pancasila. Oleh karena itu, keteladanan elit politik dan birokrasi adalah kunci utama kepercayaan publik terhadap ideologi negara.
Di tingkat akar rumput, Pancasila hidup dalam tradisi gotong royong. Di tengah masyarakat yang majemuk, solidaritas sosial adalah benteng terkuat melawan disintegrasi. Kegiatan bakti sosial, pelestarian lingkungan, hingga dialog lintas iman dan suku adalah wujud konkret dari sila ketiga dan kedua.
Masyarakat tidak perlu menunggu instruksi pemerintah untuk menjadi Pancasilais. Inisiatif warga untuk menjaga kerukunan tetangga, membantu korban bencana, atau melestarikan budaya lokal adalah bukti bahwa Pancasila masih relevan dan hidup. Keterlibatan berbagai elemen masyarakat ini memperkuat anyaman persatuan, menjadikan perbedaan bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai kekuatan kolektif.
Pada akhirnya, mengaktualisasikan Pancasila adalah tanggung jawab bersama (shared responsibility). Tidak ada pihak yang bisa lepas tangan. Setiap individu, sebagai bagian dari komunitas dan negara, memiliki peran strategis. Upaya kolektif yang konsisten diperlukan untuk memastikan Pancasila tidak kering dan menjadi artefak sejarah belaka.
Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini seyogianya menjadi titik balik bagi kita semua. Mari kita refleksikan kembali: sejauh mana nilai-nilai luhur itu telah kita terapkan dalam keseharian? Sudah waktunya kita keluar dari jebakan retorika dan simbolisme kosong. Melalui komitmen dan tindakan nyata, kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa: Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera. Menghadirkan Pancasila dalam aksi nyata adalah satu-satunya cara untuk merayakan kelahirannya dengan paling bermartabat.







