slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor hari ini

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

Sunyi di Hari Raya: Ketika Lebaran Menjadi Panggung Ketimpangan. - JURNAL INVESTIGASI NEWS

Sunyi di Hari Raya: Ketika Lebaran Menjadi Panggung Ketimpangan.

Avatar

- Jurnalis

Senin, 23 Maret 2026 - 09:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Martha Tiana Hermawan, Ketua Rekan Indonesia DKI Jakarta.

Idul Fitri kerap dirayakan sebagai simbol kemenangan. Narasi yang berulang setiap tahun terdengar sederhana: manusia kembali suci, masyarakat kembali rukun, dan kehidupan sosial menemukan harmoni. Namun, di balik perayaan itu, ada kenyataan yang jarang benar-benar kita hadapi.

Lebaran, dalam banyak hal, lebih menyerupai panggung daripada cermin.

Di atas panggung itu, kebahagiaan dipertontonkan. Senyum dibagikan, cerita sukses dipertukarkan, dan kehidupan tampak berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi di baliknya, ketimpangan tetap bekerja, sunyi namun nyata.

Fenomena mudik, misalnya, sering dirayakan sebagai tradisi yang menghangatkan. Padahal, jika dibaca lebih jujur, ia juga mencerminkan ketimpangan pembangunan yang tak pernah benar-benar selesai. Kota terus menyedot tenaga kerja, sementara desa kehilangan daya hidupnya. Lebaran menjadi satu-satunya momen ketika relasi yang timpang itu seolah dipulangkan—meski hanya sementara.

Di ruang keluarga, tekanan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar ringan seperti “kerja di mana?” atau “kapan menikah?” sering kali bukan sekadar basa-basi. Ia menjadi cara sosial untuk mengukur, membandingkan, bahkan menilai. Dalam suasana yang seharusnya hangat, tidak sedikit orang justru merasa dihakimi.

Baca Juga :  Iran Buka Jalur Aman Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz

Tanpa disadari, Lebaran berubah menjadi ritual evaluasi sosial.

Pada saat yang sama, konsumsi meningkat drastis. Pusat perbelanjaan penuh, promosi bertebaran, dan kebutuhan sosial seolah harus dipenuhi lewat transaksi. Tradisi perlahan bergeser menjadi siklus konsumsi tahunan. Tunjangan hari raya tidak lagi sekadar hak pekerja, tetapi juga menjadi bahan bakar agar roda ekonomi tetap berputar.

Bagi mereka yang tidak mampu mengikuti ritme ini, tekanan tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga psikologis. Tidak bisa membeli pakaian baru, tidak mampu mudik, atau tidak dapat berbagi seperti yang diharapkan, sering kali melahirkan rasa malu yang tidak diucapkan.

Di sinilah kesehatan mental menjadi korban yang paling sunyi.

Lebaran menciptakan ekspektasi kolektif bahwa semua orang harus bahagia. Kesedihan menjadi sesuatu yang disembunyikan, bahkan ditekan. Dalam logika ini, beban emosional dipandang sebagai persoalan pribadi, bukan sebagai dampak dari struktur sosial yang timpang. Orang diminta untuk kuat, tanpa pernah benar-benar ditanya apa yang membuat mereka lemah.

Akibatnya, Lebaran tidak selalu menjadi ruang pemulihan. Ia justru kerap menjadi mekanisme penenang yang menutup luka tanpa menyentuh akar persoalannya.

Baca Juga :  Mengapresiasi Pesan Pertama Ayatullah Sayid Mojtaba Hosseini Khamenei.

Kita diajak untuk saling memaafkan, tetapi jarang diajak untuk bertanya: siapa yang terus-menerus berada dalam posisi yang harus memaafkan? Siapa yang diuntungkan dari situasi yang tidak pernah berubah?

Di titik ini, memaknai Idul Fitri semata sebagai ritual spiritual terasa tidak cukup. Sebab banyak luka sosial tidak lahir dari kesalahan individu, melainkan dari ketimpangan yang diproduksi secara terus-menerus.

Apa arti kebersamaan jika sebagian orang tetap tersingkir?
Apa makna kemenangan jika tidak semua benar-benar merasakannya?

Sudah waktunya Lebaran dibaca lebih jujur—bukan hanya sebagai refleksi pribadi, tetapi juga refleksi sosial. Bukan sekadar momen untuk berdamai dengan sesama, tetapi juga keberanian untuk melihat ketidakadilan yang selama ini dibiarkan.

Sebab jika tidak, kita hanya akan mengulang siklus yang sama setiap tahun: merayakan kebahagiaan yang ditampilkan, sambil mengabaikan kesunyian yang nyata.

Dan di tengah gema takbir yang menggema, akan selalu ada suara yang nyaris tak terdengar—suara mereka yang tidak pernah benar-benar diajak merasakan kemenangan itu.

Berita Terkait

8 Alasan Mengapa Ada Pihak Ingin Menggoyang Kekuasaan Prabowo Subianto
Wajib Belajar 13 Tahun Resmi Dicanangkan, Negara Perkuat Fondasi SDM Sejak Usia Dini
RDF: Ilusi Teknologi di Tengah Krisis Sampah
Lebaran Betawi: Mengikat Silaturahmi, Menjaga Tradisi, Merawat Alam
Peran Strategis Dasco Jaga Stabilitas Politik Pemerintahan Prabowo
Iran Buka Jalur Aman Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz
Menata Ulang Bantar Gebang: Antara Tragedi dan Tanggung Jawab Tata Kelola.
Prabowo : Kita Jangan Jadi Bangsa Penakut
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 18:44 WIB

8 Alasan Mengapa Ada Pihak Ingin Menggoyang Kekuasaan Prabowo Subianto

Sabtu, 18 April 2026 - 09:39 WIB

Wajib Belajar 13 Tahun Resmi Dicanangkan, Negara Perkuat Fondasi SDM Sejak Usia Dini

Selasa, 14 April 2026 - 12:44 WIB

RDF: Ilusi Teknologi di Tengah Krisis Sampah

Senin, 6 April 2026 - 21:04 WIB

Lebaran Betawi: Mengikat Silaturahmi, Menjaga Tradisi, Merawat Alam

Kamis, 2 April 2026 - 17:25 WIB

Peran Strategis Dasco Jaga Stabilitas Politik Pemerintahan Prabowo

Berita Terbaru