Oleh: Muchlis Hassan
JAKARTA jurnalisinvestigasinews.com – Langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola negara diperkirakan tidak akan berjalan mulus. Sejumlah kebijakan yang menyentuh kepentingan besar dinilai berpotensi memicu perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini menikmati celah dalam sistem.
Upaya membangun birokrasi yang bersih, disiplin, dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi fokus utama. Praktik lama seperti budaya “asal bapak senang” (ABS) mulai dipangkas. Namun, perubahan ini justru diduga menimbulkan resistensi.
Ada indikasi bahwa pihak-pihak yang merasa dirugikan tengah membangun gerakan yang terstruktur untuk melemahkan kepemimpinan. Salah satu pemicunya adalah semakin sempitnya ruang untuk menyalahgunakan anggaran negara.
Berikut delapan kebijakan yang dinilai menjadi sumber “ketidaknyamanan” bagi oknum tertentu:
Kontrol Ketat Kredit Jumbo
Kredit perbankan di atas Rp200 miliar harus diketahui dan mendapat persetujuan Presiden.
Penindakan Kredit Macet Skala Besar
Aset debitur besar yang gagal bayar berpotensi diambil alih untuk kepentingan negara.
Penertiban Wajib Pajak Besar
Penyitaan aset terhadap pengusaha yang tidak memenuhi kewajiban pajak.
Pemberantasan Korupsi Tanpa Kompromi
Penegakan hukum yang lebih tegas tanpa ruang negosiasi.
Penataan Lahan Skala Besar
Lahan luas yang tidak dimanfaatkan dapat diambil alih guna mencegah konflik agraria.
Penghapusan Monopoli Impor
Terutama pada komoditas strategis seperti daging.
Pembatasan Perumahan Eksklusif
Menghindari munculnya kawasan yang terkesan “negara dalam negara”.
Larangan Ekspor Bahan Mentah
Penghentian ekspor konsentrat tembaga dan emas untuk mendorong hilirisasi.
Penulis menilai, kebijakan-kebijakan tersebut secara langsung menutup ruang praktik rente yang selama ini menggerogoti keuangan negara. Dampaknya, pihak yang kehilangan kepentingan diduga akan melakukan berbagai cara untuk mempertahankan pengaruhnya.
Namun demikian, di tengah dinamika tersebut, publik diharapkan tetap kritis dan objektif dalam menyikapi setiap informasi yang beredar.







