Bogor jurnalisinvestigasinews.com — Angin puting beliung disertai hujan deras mengakibatkan sebuah pohon tumbang di kawasan Pakansari, Kabupaten Bogor, Senin (12/02/2026). Peristiwa tersebut terjadi di wilayah yang notabene berdekatan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bogor, sehingga memicu keprihatinan berbagai pihak.
Menanggapi kejadian itu, Ketua Aktivis Matahari Indonesia (AMI), Muhamad Rojai, menyebut bencana tersebut sebagai peringatan serius agar pemerintah dan masyarakat lebih peka terhadap rusaknya keseimbangan alam akibat pola pembangunan yang tidak lagi selaras dengan nilai-nilai luhur dan kearifan leluhur.
“Ini adalah tanda bahwa kita harus sadar, tatanan kehidupan kita telah bergeser dan tidak lagi selaras dengan asal-usul serta nilai-nilai keluhuran yang diwariskan leluhur,” ujar Rojai.
Ia menegaskan, pemerintah sebagai pemegang amanah rakyat—khususnya masyarakat lokal Bogor—seharusnya menjalankan roda pemerintahan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang sejak lama diterapkan dalam peradaban, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam, tata kota dan desa, pengelolaan APBD, serta pembangunan yang berorientasi pada kemajuan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
“Bumi sejatinya adalah dapur kehidupan. Semua telah tersedia bagi manusia dari masa ke masa. Namun kini nilai-nilai keluhuran dalam memperlakukan alam semesta kian memudar,” tegasnya.
Rojai juga menyoroti maraknya pelanggaran aturan serta kebijakan yang dinilainya hanya berorientasi pada kepentingan segelintir golongan, dengan mengabaikan dampak kerusakan lingkungan dan keselamatan manusia.
“Ekologi seharusnya hidup berdampingan dengan manusia, bukan dieksploitasi secara serampangan demi keuntungan jangka pendek,” katanya.
Menurutnya, pembangunan demi keindahan tata kota atau desa bukanlah hal yang keliru, namun harus diimbangi dengan prinsip keadilan dan keberadaban, serta pemerataan pembangunan agar mampu menggerakkan perekonomian masyarakat lokal secara nyata.
“Keberhasilan kepemimpinan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat merasakan langsung kesejahteraan. Namun jangan lupa, masih banyak wilayah pelosok yang tertinggal,” ungkap Rojai.
Ia memaparkan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari infrastruktur jalan rusak, minimnya lapangan kerja, kemiskinan, gizi buruk dan stunting, keterbatasan listrik, hingga rendahnya akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan.
Rojai menekankan pentingnya prioritas pada peningkatan penyerapan tenaga kerja agar masyarakat mampu menghidupkan roda perekonomian secara mandiri.
Selain itu, program pemerintah pusat seperti bantuan sosial dan PKH dinilainya perlu dibarengi dengan edukasi, pelatihan, dan pendampingan berjenjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan semata.
“Masyarakat membutuhkan pembangunan yang merata, berkeadilan, dan beradab. Bukan sekadar seremoni yang ditampilkan ke permukaan, sementara persoalan sosial di akar rumput diabaikan,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Rojai mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menyadari peran manusia sebagai bagian dari alam semesta.
“Marilah kita kembali pada kesadaran sebagai insan ciptaan Allah SWT, agar sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim melekat dalam kehidupan, termasuk dalam kepemimpinan daerah yang selaras dengan alam dan kearifan lokal,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan yang mengejar kecepatan tanpa memperhatikan keseimbangan alam dan nilai-nilai leluhur justru akan mempercepat kerusakan dan memicu bencana.
“Lebih baik lambat namun penuh kajian dan selaras dengan tatanan alam serta kearifan lokal, daripada cepat tetapi mengundang bencana,” pungkas Rojai, yang akrab disapa Kang Jay.







