Oleh: Azis Khafia
Setiap momen Idul Fitri, ada satu kuliner khas Tanah Betawi yang hampir selalu hadir di meja makan: semur. Hidangan bercita rasa manis, gurih, dan kaya rempah ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat Betawi.
Dalam tradisi lama, dikenal istilah kebo andilan, di mana masyarakat bergotong royong menyembelih kerbau untuk kemudian diolah bersama, salah satunya menjadi semur kebo. Selain itu, berkembang pula berbagai varian seperti semur sapi, semur tahu, hingga semur jengkol yang tak kalah populer.
Meski kini dikenal sebagai kuliner khas Betawi, semur sejatinya merupakan hasil akulturasi tiga peradaban besar: Nusantara, Tiongkok, dan Belanda.
Sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Nusantara telah memiliki tradisi mengawetkan makanan dengan berbagai cara, salah satunya melalui racikan bumbu. Ketika imigran Tiongkok datang ke Nusantara, mereka membawa tradisi kuliner sendiri, termasuk olahan berbasis sari ikan dengan cita rasa khas. Masyarakat lokal kemudian mengadaptasi masakan tersebut dengan menambahkan gula merah dan rempah, sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih yang lebih sesuai dengan lidah Nusantara.
Seiring waktu, terjadi percampuran budaya melalui pernikahan antara imigran Tiongkok dan masyarakat lokal. Dari sinilah lahir tradisi kuliner rumah tangga Tionghoa-Betawi, termasuk semur sebagai salah satu hidangan utama.
Sementara itu, pengaruh Belanda hadir melalui teknik memasak smoor, yaitu merebus bahan makanan secara perlahan. Dari istilah inilah kemudian lahir kata “semur”. Teknik ini dipadukan dengan bahan lokal seperti kecap manis serta rempah-rempah khas Nusantara seperti pala dan cengkeh, menghasilkan hidangan berkuah cokelat pekat yang kita kenal hari ini.
Semur Betawi bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol pertemuan budaya, bukti bahwa perbedaan dapat melebur menjadi harmoni. Di meja makan saat Lebaran—hari raya umat Islam—semur menjadi bagian dari perayaan kebersamaan, persatuan, dan kekerabatan.
Dari sepiring semur, kita belajar bahwa identitas Betawi, bahkan Indonesia, dibentuk oleh proses panjang akulturasi. Sebuah perpaduan global yang hadir dalam rasa lokal.
Dan pada akhirnya, semur Betawi bukan hanya tentang rasa—tetapi tentang sejarah, kebersamaan, dan makna menjadi sebuah bangsa.







