Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.
Jakarta jurnalisinvestigasinews.com — Kalau dunia internasional itu seperti panggung debat raksasa, maka pernyataan pemimpin Kim Jong Un pada Desember 2025 kemarin bisa dibilang seperti melempar petasan ke tengah keramaian. Dalam pernyataannya, ia menyebut Israel sebagai “proyek teror buatan” yang disokong oleh Amerika Serikat.
Kalimatnya pendek, tapi gaungnya panjang. Sejumlah analis langsung menyorotnya. Media internasional ramai memberitakannya. Sebagian orang menganggapnya sebagai kritik keras terhadap Israel. Sebagian lain melihatnya sebagai bagian dari gaya retorika khas Korea Utara.
Sebenarnya, kalau kita mundur sedikit ke belakang, pernyataan itu bukan sesuatu yang benar-benar baru. Korea Utara memang sudah lama punya posisi politik yang tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel. Pyongyang tidak pernah secara resmi mengakui Israel sebagai negara.
Dalam cara pandang politik Korea Utara, banyak konflik dunia sering dilihat sebagai pertarungan antara kekuatan besar yang ingin mendominasi dan negara-negara yang menolak dominasi tersebut. Karena itu, Korea Utara juga sering menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Jadi ketika Kim Jong Un melontarkan kritik keras terhadap Israel, bagi Pyongyang itu sebenarnya hanya melanjutkan garis politik yang sudah lama mereka pegang.
Apakah pernyataan itu langsung mengubah peta politik dunia? Tidak juga. Tidak ada kebijakan baru yang diumumkan. Tidak ada langkah diplomatik besar yang tiba-tiba muncul setelahnya.
Namun dalam politik internasional, kata-kata sering kali punya efek sendiri. Pernyataan keras seperti itu bisa mempertegas posisi politik suatu negara. Ia juga bisa memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan cara pandang dunia terhadap konflik di Timur Tengah.
Bagi banyak negara Barat, Israel adalah negara berdaulat yang harus dijamin keamanannya. Tetapi bagi sebagian negara lain, konflik Israel–Palestina dilihat sebagai persoalan sejarah panjang yang berkaitan dengan kolonialisme, perebutan wilayah, dan ketimpangan kekuatan politik.
Karena itu, konflik ini tidak pernah sekadar konflik regional. Ia selalu ikut terseret ke dalam arus besar politik global.
Di tengah situasi seperti ini, pernyataan dari tokoh seperti Kim Jong Un pada dasarnya lebih merupakan bagian dari pertarungan narasi politik dunia. Setiap negara ingin menunjukkan di mana posisi mereka berdiri.
Sayangnya, di balik semua debat keras itu ada kenyataan yang jauh lebih berat: konflik di Timur Tengah terus memakan korban dari generasi ke generasi.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar siapa yang paling keras berbicara di panggung politik global. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: kapan dunia benar-benar serius mencari jalan damai bagi semua pihak di kawasan itu.







