slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor hari ini

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

Kim Jong Un, Israel, dan Ribut-Ribut Politik Global - JURNAL INVESTIGASI NEWS

Kim Jong Un, Israel, dan Ribut-Ribut Politik Global

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 6 Maret 2026 - 06:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.

 

Jakarta jurnalisinvestigasinews.com — Kalau dunia internasional itu seperti panggung debat raksasa, maka pernyataan pemimpin Kim Jong Un pada Desember 2025 kemarin bisa dibilang seperti melempar petasan ke tengah keramaian. Dalam pernyataannya, ia menyebut Israel sebagai “proyek teror buatan” yang disokong oleh Amerika Serikat.

 

Kalimatnya pendek, tapi gaungnya panjang. Sejumlah analis langsung menyorotnya. Media internasional ramai memberitakannya. Sebagian orang menganggapnya sebagai kritik keras terhadap Israel. Sebagian lain melihatnya sebagai bagian dari gaya retorika khas Korea Utara.

 

Sebenarnya, kalau kita mundur sedikit ke belakang, pernyataan itu bukan sesuatu yang benar-benar baru. Korea Utara memang sudah lama punya posisi politik yang tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel. Pyongyang tidak pernah secara resmi mengakui Israel sebagai negara.

 

Dalam cara pandang politik Korea Utara, banyak konflik dunia sering dilihat sebagai pertarungan antara kekuatan besar yang ingin mendominasi dan negara-negara yang menolak dominasi tersebut. Karena itu, Korea Utara juga sering menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Baca Juga :  Presiden akan Tinjau Proyek Infrastruktur dan Serahkan Bansos di Provinsi Maluku

 

Jadi ketika Kim Jong Un melontarkan kritik keras terhadap Israel, bagi Pyongyang itu sebenarnya hanya melanjutkan garis politik yang sudah lama mereka pegang.

 

Apakah pernyataan itu langsung mengubah peta politik dunia? Tidak juga. Tidak ada kebijakan baru yang diumumkan. Tidak ada langkah diplomatik besar yang tiba-tiba muncul setelahnya.

 

Namun dalam politik internasional, kata-kata sering kali punya efek sendiri. Pernyataan keras seperti itu bisa mempertegas posisi politik suatu negara. Ia juga bisa memperlihatkan betapa tajamnya perbedaan cara pandang dunia terhadap konflik di Timur Tengah.

 

Bagi banyak negara Barat, Israel adalah negara berdaulat yang harus dijamin keamanannya. Tetapi bagi sebagian negara lain, konflik Israel–Palestina dilihat sebagai persoalan sejarah panjang yang berkaitan dengan kolonialisme, perebutan wilayah, dan ketimpangan kekuatan politik.

Baca Juga :  Silahturahmi dengan Security Mall, Babinsa Cengkareng Ciptakan Rasa Nyaman dan aman.

 

Karena itu, konflik ini tidak pernah sekadar konflik regional. Ia selalu ikut terseret ke dalam arus besar politik global.

 

Di tengah situasi seperti ini, pernyataan dari tokoh seperti Kim Jong Un pada dasarnya lebih merupakan bagian dari pertarungan narasi politik dunia. Setiap negara ingin menunjukkan di mana posisi mereka berdiri.

 

Sayangnya, di balik semua debat keras itu ada kenyataan yang jauh lebih berat: konflik di Timur Tengah terus memakan korban dari generasi ke generasi.

 

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar siapa yang paling keras berbicara di panggung politik global. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: kapan dunia benar-benar serius mencari jalan damai bagi semua pihak di kawasan itu.

Berita Terkait

Memaknai Kembali Pancasila: Dari Simbolisme Menuju Substansi Kebangsaan
8 Alasan Mengapa Ada Pihak Ingin Menggoyang Kekuasaan Prabowo Subianto
Wajib Belajar 13 Tahun Resmi Dicanangkan, Negara Perkuat Fondasi SDM Sejak Usia Dini
RDF: Ilusi Teknologi di Tengah Krisis Sampah
Lebaran Betawi: Mengikat Silaturahmi, Menjaga Tradisi, Merawat Alam
Peran Strategis Dasco Jaga Stabilitas Politik Pemerintahan Prabowo
Iran Buka Jalur Aman Kapal Tanker Indonesia di Selat Hormuz
Menata Ulang Bantar Gebang: Antara Tragedi dan Tanggung Jawab Tata Kelola.
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 16:57 WIB

Memaknai Kembali Pancasila: Dari Simbolisme Menuju Substansi Kebangsaan

Sabtu, 18 April 2026 - 18:44 WIB

8 Alasan Mengapa Ada Pihak Ingin Menggoyang Kekuasaan Prabowo Subianto

Sabtu, 18 April 2026 - 09:39 WIB

Wajib Belajar 13 Tahun Resmi Dicanangkan, Negara Perkuat Fondasi SDM Sejak Usia Dini

Selasa, 14 April 2026 - 12:44 WIB

RDF: Ilusi Teknologi di Tengah Krisis Sampah

Senin, 6 April 2026 - 21:04 WIB

Lebaran Betawi: Mengikat Silaturahmi, Menjaga Tradisi, Merawat Alam

Berita Terbaru