Oleh: Dr.H.M.Suaidi,M.Ag.
Jakarta jurnalisinvestigasinews.com — Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang memiliki dua dimensi utama dalam kedudukannya, yakni sebagai basyar (manusia biasa) dan sebagai Habibullah (kekasih Allah). Kedua sisi ini saling melengkapi dan menegaskan posisi beliau sebagai uswatun hasanah (teladan terbaik) bagi umat manusia.
Dr. H. M. Suaidi, M.Ag. menjelaskan bahwa sebagai basyar, Nabi Muhammad SAW adalah manusia sebagaimana umumnya. Beliau makan, minum, tidur, merasakan sakit, sedih, bahagia, serta menjalani kehidupan berkeluarga. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 110 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa yang menerima wahyu dari Allah SWT. Inilah yang menjadi pembeda utama antara beliau dengan manusia lainnya.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh ulama besar Mesir, Muhammad Mutawalli As-Sha’rawi, yang menyatakan bahwa keistimewaan Nabi terletak pada wahyu dan kerasulan yang diberikan Allah SWT, bukan pada aspek fisik sebagai manusia.
Di sisi lain, Nabi Muhammad SAW juga memiliki kedudukan sebagai Habibullah atau kekasih Allah. Dalam dimensi ini, beliau memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki manusia biasa. Beliau dijaga dari kesalahan dalam menyampaikan risalah, memiliki akhlak paling mulia, serta menjadi sumber teladan dan rujukan hukum Islam melalui sunnahnya.
Berbagai peristiwa luar biasa yang dialami beliau, seperti Isra Mi’raj, semakin menegaskan kedudukan istimewa tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Sahih Muslim disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Nabi Ibrahim AS juga dijadikan sebagai khalilullah.
Dengan memahami dua sisi ini, umat Islam diharapkan dapat meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW secara utuh, baik dalam aspek kemanusiaan maupun spiritual. Kombinasi keduanya menjadikan beliau sebagai figur sempurna yang relevan sepanjang zaman.







