JAKARTA jurnalisinvestigasinews.com — Upaya memperkuat fondasi demokrasi terus dilakukan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta. Kali ini, pendekatan dilakukan melalui jalur kepemudaan dengan menggandeng Pemuda Muslimin DKI Jakarta dalam sebuah forum silaturahmi bertajuk Konsolidasi Demokrasi, Rabu (8/4/2026), di Central Park.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa pengawasan pemilu tak lagi hanya bertumpu pada lembaga formal, tetapi juga mulai diperluas ke partisipasi publik, khususnya generasi muda sebagai elemen strategis perubahan.
Turut hadir Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa Bawaslu DKI Jakarta, Reki Putera Jaya, yang disambut langsung Ketua Pemuda Muslimin DKI Jakarta, Rizki. Pertemuan berlangsung hangat, namun sarat pesan penting tentang masa depan demokrasi.
Dalam forum, Reki menegaskan bahwa pemuda tidak boleh hanya menjadi “penonton” dalam proses demokrasi. “Pemuda harus naik kelas, dari sekadar pemilih menjadi pengawas partisipatif. Di situlah kualitas demokrasi benar-benar diuji,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan pemilu ke depan semakin kompleks, sehingga membutuhkan keterlibatan publik yang lebih luas untuk menekan potensi pelanggaran.
Sementara itu, Rizki menilai kolaborasi ini sebagai momentum penting untuk membangun kesadaran politik yang lebih substansial di kalangan anak muda.
“Kami tidak ingin pemuda hanya hadir saat mencoblos. Edukasi dan pengawasan adalah bagian penting yang harus kami ambil,” ujarnya.
Ia juga memastikan Pemuda Muslimin DKI Jakarta siap menjadi mitra strategis dalam mensosialisasikan pentingnya integritas pemilu di tengah masyarakat. Silaturahmi ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, menjadi pijakan awal bagi kerja kolaboratif antara Bawaslu dan elemen pemuda dalam menciptakan ekosistem demokrasi yang tidak hanya prosedural, tetapi juga berintegritas.
Di tengah tantangan kepercayaan publik terhadap proses pemilu, langkah semacam ini menjadi relevan—bahkan mendesak—untuk memastikan demokrasi tetap berjalan di rel yang semestinya.
Penulis : Syahrudin akbar







