Oleh : Azis Khafia Sekretaris Bid.Kesehatan & Lingkungan MUI Jaksel
Jakarta, jurnalisinvestigasinews.com – Lebaran bagi masyarakat Betawi bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menyimpan jejak panjang tradisi dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Hal tersebut disampaikan Azis Khafia, Sekretaris Bidang Kesehatan dan Lingkungan MUI Jakarta Selatan, yang menilai bahwa Lebaran Betawi merupakan hasil akulturasi budaya sejak masa pra-Islam hingga berkembang dalam nilai-nilai Islam saat ini.
“Dulu, masyarakat Betawi yang mayoritas petani merayakan panen dengan ritual penutupan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini kemudian diselaraskan dengan ajaran Islam,” ujarnya.
Menurutnya, Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai kembali pada kesucian, tetapi juga sebagai momentum kembali pada jati diri dan asal-usul. Hal ini tercermin dalam tradisi ngored atau membersihkan makam leluhur yang dilanjutkan dengan ziarah.
“Ziarah menjadi bentuk komunikasi simbolik antara generasi saat ini dengan para pendahulunya,” tambahnya.
Tak hanya itu, kekayaan budaya Betawi juga terlihat dari ragam hidangan Lebaran. Berbagai sajian seperti nastar, kaasstengels, hingga kue semprit menunjukkan adanya pengaruh budaya Eropa. Sementara semur menjadi contoh kuat perpaduan budaya Betawi, Belanda, dan Tionghoa.
Tradisi “ngeteh” saat menjamu tamu pun menjadi bagian dari akulturasi budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Betawi.
Di sisi lain, Azis juga menyoroti eratnya hubungan masyarakat Betawi dengan lingkungan. Salah satunya melalui tradisi bebersih, yakni mandi bersama di kali sebelum memasuki bulan Ramadan.
“Ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi bentuk kearifan ekologis masyarakat Betawi yang hidup berdampingan dengan sungai,” jelasnya.
Namun, ia menyayangkan tradisi tersebut kini mulai hilang seiring rusaknya ekosistem sungai di Jakarta.
Ia menegaskan, Lebaran Betawi seharusnya tidak hanya dipahami sebagai seremoni budaya tahunan, tetapi juga sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
“Betawi bukan sekadar seni dan festival, tetapi merupakan ruh peradaban yang sarat nilai spiritual, sosial, dan ekologis,” tegasnya.
Dengan demikian, momentum Lebaran diharapkan menjadi penguat kesadaran semua pihak untuk menjaga budaya sekaligus merawat lingkungan sebagai bagian dari warisan yang tak ternilai.
Penulis : Syahrudin akbar







