BOGOR, jurnalisinvestigasinews.com — Aktivis lingkungan mendesak aparat terkait untuk melakukan investigasi mendalam atas temuan seekor macan tutul yang terjerat di wilayah Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor.Selain itu, edukasi kepada masyarakat dinilai penting guna meningkatkan kesadaran dalam melindungi satwa liar dan menjaga kelestarian kawasan hutan konservasi.
Laporan warga mengenai keberadaan macan tutul yang terjerat di dekat permukiman langsung ditindaklanjuti oleh petugas gabungan. Tim yang terdiri dari unsur Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Safari Indonesia, aparat Kepolisian, TNI, serta masyarakat setempat bergerak cepat melakukan evakuasi demi memastikan keselamatan warga dan satwa.
Ketua Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Jawa Barat (Gedepahala FK3I Jabar), Ligar Sonagar Risjoni, mengatakan kemunculan macan tutul di area permukiman tidak terlepas dari perubahan habitat.
“Secara alami, kawasan tersebut dulunya merupakan habitat mereka. Namun seiring waktu terjadi perubahan menjadi perkampungan. Selain itu, bisa jadi macan keluar kawasan karena mengejar mangsa seperti babi hutan atau hewan lainnya,” ujarnya di lokasi, Jumat (3/4/2026).
Ia menegaskan perlunya investigasi untuk memastikan penyebab macan tutul tersebut terjerat, apakah akibat jerat pemburu atau faktor lain.
“Kami mendesak adanya investigasi lebih lanjut, sekaligus edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi satwa liar dan kelestarian kawasan hutan konservasi,” tegasnya.
Sementara itu, Humas Regional Gedepahala FK3I Jabar, Sabilillah, menyebut macan tutul (Panthera pardus) merupakan satwa dilindungi dengan populasi terbatas, diperkirakan hanya sekitar 50 ekor di kawasan tersebut.
“Keberadaan manusia di habitat satwa dilindungi berpotensi menjadi gangguan. Karena itu, semua pihak harus bersama-sama mengawal kelestariannya serta mencegah aktivitas perburuan liar,” ujarnya.
Ia juga mengajak media massa untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui pemberitaan yang membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hutan konservasi beserta keanekaragaman hayatinya.
Di sisi lain, Petugas Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Bogor, Dani Hamdani, memastikan proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan tim gabungan guna menjamin keamanan semua pihak.
“Kami memastikan kondisi satwa dan proses evakuasi berjalan aman, baik bagi warga maupun hewan yang terjerat,” katanya.
Dani menambahkan, kemunculan macan tutul di kawasan permukiman bukan berasal dari kepemilikan individu, melainkan bagian dari populasi alami yang masih bertahan di kawasan hutan Puncak Bogor.
Penulis : Syahrudin akbar







