slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor hari ini

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

slot gacor

Aktivis Desak Investigasi Temuan Macan Tutul Terjerat di Tugu Selatan - JURNAL INVESTIGASI NEWS

Aktivis Desak Investigasi Temuan Macan Tutul Terjerat di Tugu Selatan

Avatar

- Jurnalis

Jumat, 3 April 2026 - 19:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BOGOR, jurnalisinvestigasinews.com — Aktivis lingkungan mendesak aparat terkait untuk melakukan investigasi mendalam atas temuan seekor macan tutul yang terjerat di wilayah Kampung Gunung Mas, Desa Tugu Selatan, Kabupaten Bogor.Selain itu, edukasi kepada masyarakat dinilai penting guna meningkatkan kesadaran dalam melindungi satwa liar dan menjaga kelestarian kawasan hutan konservasi.

 

Laporan warga mengenai keberadaan macan tutul yang terjerat di dekat permukiman langsung ditindaklanjuti oleh petugas gabungan. Tim yang terdiri dari unsur Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Safari Indonesia, aparat Kepolisian, TNI, serta masyarakat setempat bergerak cepat melakukan evakuasi demi memastikan keselamatan warga dan satwa.

Ketua Regional Gunung Gede Pangrango Halimun Salak Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Jawa Barat (Gedepahala FK3I Jabar), Ligar Sonagar Risjoni, mengatakan kemunculan macan tutul di area permukiman tidak terlepas dari perubahan habitat.

Baca Juga :  House lawmakers balk at most Trump science cuts in early bills

“Secara alami, kawasan tersebut dulunya merupakan habitat mereka. Namun seiring waktu terjadi perubahan menjadi perkampungan. Selain itu, bisa jadi macan keluar kawasan karena mengejar mangsa seperti babi hutan atau hewan lainnya,” ujarnya di lokasi, Jumat (3/4/2026).

Ia menegaskan perlunya investigasi untuk memastikan penyebab macan tutul tersebut terjerat, apakah akibat jerat pemburu atau faktor lain.
“Kami mendesak adanya investigasi lebih lanjut, sekaligus edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi satwa liar dan kelestarian kawasan hutan konservasi,” tegasnya.
Sementara itu, Humas Regional Gedepahala FK3I Jabar, Sabilillah, menyebut macan tutul (Panthera pardus) merupakan satwa dilindungi dengan populasi terbatas, diperkirakan hanya sekitar 50 ekor di kawasan tersebut.

“Keberadaan manusia di habitat satwa dilindungi berpotensi menjadi gangguan. Karena itu, semua pihak harus bersama-sama mengawal kelestariannya serta mencegah aktivitas perburuan liar,” ujarnya.

Baca Juga :  Lubang Galian, Korban Berjatuhan: Ultimatum Wali Kota Jaktim ke PAM Jaya Didukung Warga

Ia juga mengajak media massa untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui pemberitaan yang membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kawasan hutan konservasi beserta keanekaragaman hayatinya.
Di sisi lain, Petugas Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Bogor, Dani Hamdani, memastikan proses evakuasi dilakukan dengan melibatkan tim gabungan guna menjamin keamanan semua pihak.

“Kami memastikan kondisi satwa dan proses evakuasi berjalan aman, baik bagi warga maupun hewan yang terjerat,” katanya.
Dani menambahkan, kemunculan macan tutul di kawasan permukiman bukan berasal dari kepemilikan individu, melainkan bagian dari populasi alami yang masih bertahan di kawasan hutan Puncak Bogor.

Penulis : Syahrudin akbar

Berita Terkait

Diduga Ada ‘Jalur Komandan’ di Samsat Jakarta Timur, Wajib Pajak Merasa Dianaktirikan”
Lubang Galian, Korban Berjatuhan: Ultimatum Wali Kota Jaktim ke PAM Jaya Didukung Warga
Diduga Intimidasi Nasabah, Oknum Debt Collector Koperasi di Matraman Resahkan Warga
Aktivis KPKB: Pernyataan Bupati Lebak Saat Halal Bihalal Dinilai Menyakiti Pendukung Amir Hamzah
Aspirasi Indonesia dan GNAI Bersatu Perangi Islamofobia Global
Gubernur Pramono Anung Tinjau Longsor di TPST Bantargebang, Pastikan Penanganan Cepat dan Santunan Korban
Diduga Dampak Galian Pipa Perusahaan Daerah Air Minum, Jalan Satu Maret Kalideres Dipenuhi Lumpur dan Bau
Iran Kecam Serangan AS dan Israel, Pengamat Nilai Berisiko Picu Eskalasi Regional
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 19:53 WIB

Aktivis Desak Investigasi Temuan Macan Tutul Terjerat di Tugu Selatan

Kamis, 2 April 2026 - 11:00 WIB

Diduga Ada ‘Jalur Komandan’ di Samsat Jakarta Timur, Wajib Pajak Merasa Dianaktirikan”

Rabu, 1 April 2026 - 19:01 WIB

Lubang Galian, Korban Berjatuhan: Ultimatum Wali Kota Jaktim ke PAM Jaya Didukung Warga

Rabu, 1 April 2026 - 08:34 WIB

Diduga Intimidasi Nasabah, Oknum Debt Collector Koperasi di Matraman Resahkan Warga

Selasa, 31 Maret 2026 - 07:02 WIB

Aktivis KPKB: Pernyataan Bupati Lebak Saat Halal Bihalal Dinilai Menyakiti Pendukung Amir Hamzah

Berita Terbaru

Lingkungan hidup

DLH Jatinegara Pastikan Sampah Terkendali, Angkutan Berjalan Tiga Shift

Jumat, 10 Apr 2026 - 20:36 WIB