Jakarta jurnalisinvestigasinews.com — Aspirasi Indonesia bersama Gerakan Nasional Anti Islamofobia (GNAI) memperingati Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia yang jatuh setiap 15 Maret, sebagaimana ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Peringatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran global terhadap bahaya Islamofobia, yang hingga kini masih menjadi ancaman serius, baik di tingkat internasional maupun nasional.
Penetapan tanggal 15 Maret tidak terlepas dari tragedi kelam Serangan Masjid Christchurch 2019 di Christchurch, Selandia Baru, di mana 51 umat Muslim menjadi korban dalam aksi teror brutal yang dilakukan oleh Brenton Harrison Tarrant.
Dalam kegiatan ini, Aspirasi Indonesia dan GNAI menegaskan bahwa Islamofobia tidak hanya datang dari pihak luar umat Islam, tetapi juga bisa muncul dari internal umat sendiri, akibat kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Selain itu, keprihatinan juga disampaikan terhadap fenomena Islamofobia yang masih terjadi di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Padahal, dalam konstitusi negara, yakni Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945, ditegaskan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa—yang juga menjadi dasar Sila Pertama Pancasila.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Hidayat Nur Wahid dari MPR RI, Abbas Thaha, Alfian Tanjung, Hatta Taliwang, Eggi Sudjana, serta sejumlah tokoh dan aktivis lainnya.
Hadir pula Ustaz Abu Taqi Mayestino selaku anggota presidium nasional sekaligus Sekjen GNAI, Wati Salam selaku Ketua Umum Aspirasi Indonesia, Ustaz Nazar Haris sebagai anggota presidium nasional GNAI sekaligus Ketua Majelis Ormas Islam (MOI), serta tokoh mualaf asal Inggris, Ashley Welsh.
Kegiatan ini juga melibatkan para yatim, piatu, dan dhuafa binaan berbagai lembaga, seperti Muhammadiyah, Aisyiyah, serta Pondok Pesantren Imam Syafi’i Ciomas.
Melalui momentum ini, Aspirasi Indonesia dan GNAI mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi melawan segala bentuk diskriminasi, intoleransi, dan stigma negatif terhadap Islam, serta memperkuat nilai-nilai persatuan dan kemanusiaan.
Penulis : Syahrudin akbar







